Perjalanan Menuju Keindahan Bromo

kawah-gunung-bromoPukul setengah delapan pagi, saya dan beberapa teman tiba di Stasiun Malang Baru setelah menempuh perjalanan 905 Km dari Stasiun Pasar Senen Jakarta.

Rangkaian perjalanan delapan belas jam menuju tujuan akhir kompleks pegunungan Bromo itu tak terasa membosankan. Peserta rombongan sudah membaur menjadi satu, mulai dari cerita perjalanan masing-masing, sampai ke topik sebagian besar pejalan itu adalah jomblo. Menemukan pasangan saat melakukan perjalanan merupakan bonus bagi para traveler, kata salah satu teman saya. Hiruk pikuk tukang jualan menjajakan dagangannya, canda tawa, saling berbagi, dan peduli menyertai perjalanan kami saat itu dan membuat kami semakin akrab.

Kota Malang menjadi pintu masuk kami menuju Bromo. Kompleks pegunungan Bromo Tengger Semeru terletak di Kabupaten Probolinggo, sekitar 3 jam perjalanan darat dari kota apel tersebut.

Kota Malang juga menjadi satu dari sekian kota di Jawa Timur yang menjadi kota yang harus saya kunjungi dan jelajahi. Selain menjadi salah satu pintu masuk Bromo dan Semeru, di Malang juga terdapat Pulau Sempu, keindahannya sudah cukup terkenal dikalangan traveler. Apalagi salah satu teman blogger saya, Debbzie, asli malang baru saja memposting salah satu lokasi pantai yang indah di daerah Goa Cina, dan itu berhasil membuat saya menambahkannya ke dalam list perjalanan saya. Tapi bukan sekarang. Coba lihat postingannya disini, dan mohon ingat pesannya…please keep this beach clean to preserve its beauty yaa.. Dimana pun kita berada.

Setelah beberes dan sarapan di stasiun, kami melanjutkan perjalanan melihat air terjun Madakaripura. Cerita dari penduduk lokal, konon nama Madakaripura diartikan sebagai tempat pemberhentian terakhir patih Gadjah Mada yang terkenal senusantara tersebut. Dari tempat parkir kendaraan, setidaknya kita harus trekking  sejauh 2 km untuk mencapai lokasi air terjun Madakaripura tersebut. Sayang tapi sayang, cuaca tidak jadi teman akrab kami saat itu. Tiba-tiba saja seorang bapak paruh baya, bertugas sebagai pengawai dilihat dari pakaiannya, berteriak kepada rombongan yang baru mau jalan menuju lokasi untuk berhenti. Ternyata akan terjadi banjir (bandang), dan berakibat menutup jalan keluar masuk.

air terjun madakaripura

Air bandang tepat di jalur masuk menuju Air Terjun Madakaripura

madakaripura waterfall

[ilustrasi] image from google

Mau tidak mau, kami harus melanjutkan perjalanan ke Desa Wonokitri, tempat kami menginap sebelum menanjak ke Bromo. Penduduk di Desa Wonokitri sebagian besar memeluk agama Hindu. Sebuah rumah tinggal (homestay) yang terdiri dari 4 kamar, cukup menampung kami semua. Rata-rata harga kamar disini sekitar 100-125 ribu/malam.

Persis jam 3 dini hari, kami sudah menyiapkan diri masing-masing, double jacket, sarung tangan, kupluk, apa pun yang bisa membuat kita merasa hangat di udara yang dingin menusuk. Mobil L300 bak terbuka sudah menanti kami di depan rumah. Wow, dingin-dingin begini justru menggunakan bak terbuka, dan sepertinya ini bakal menjadi trip yang seru. Selain kami, ternyata sudah banyak juga tim-tim yang akan berangkat ke Puncak Penanjakan untuk melihat kemunculan si gagah mentari pagi, layaknya fans sedang menunggu kemunculan artis pujaannya.

Jalan berkelok-kelok, udara dingin menusuk, dan embun-embun pagi berubah percikan air serasa merayap di wajah saya menambah dinginnya saat itu. Cukup lama pantat saya tegang dan harus berganti posisi berulang kali karena ketidaknyamanan posisi duduk…eh jongkok di mobil bak terbuka ini. Lama dari pos menuju Puncak Penanjakan sekitar 30 menit. Setibanya disana, kami langsung ditawari penyewa-penyewa jaket hangat sekitar 25 ribu atau ada juga yang menawarkan ojek hingga Puncak Penanjakan tersebut. Ternyata penggemar matahari terbit itu sudah banyak membludak, ada dimana-mana, mencari posisi yang strategis sebelum acara dimulai.

Tapi lokasi view point di Penanjakan berkabut dan berharap akan segera berakhir menjelang munculnya si-matahari terbit. Sampai langit sudah mulai membiru, kabut masih tetap bersama kami menutupi pemandangan yang dinanti-nanti. Yaelah, buutt..buutt. Penonton kecewa tapi no refund my friend.

Show must go on, berlanjut menuju savana, pasir berbisik, hingga tujuan akhir Kawah Bromo. Di perjalanan ini pun, kita semua berharap kabut sudah tidak ada lagi sehingga bisa melihat pemandangan-pemandangan indah di layar super lebar langsung dari bak terbuka itu. Apa dikata, justru hujan gerimis yang semakin lama justru semakin lebat. Tidak ada toleransi sama sekali. Terpal yang tergeletak di dasar bak yang sedari tadi diinjak, jorok dan basah terkena hujan kita bentangkan. Sreettt… layar terbentang. Cukuplah untuk melindungi kita sementara dari terpaan hujan.

Tapi?? Bau apa ini?? Baunya seperti kotoran …? Lengkap sudah penderitaan ini.

Mobil melaju kencang, belok sana-sini seenak supirnya, kapan pun gelombang di jalan, kita harus selalu siap sedia. Hingga mobil berhenti dan mesin dimatikan. Horee…, teriak saya dalam hati. Akhirnya kita berhenti di satu-satunya tenda kecil penjual jajanan gorengan, teh manis hangat, dan lainnya. Ternyata disinilah lokasi savana itu. Kami masih tetap harus menunggu karena hujan masih berlangsung cukup lama.

savana-bromo-2

Perjalanan berlanjut menuju lokasi pasir berbisik, salah satu tempat favorite saya, ladang pasir bergelombang seperti ombak. Saya benar-benar terpukau disini sambil berkata dalam hati, ‘koq bisa seperti ini ya? Indah, keren, We-O-We… Thanks Lord.’ Untungnya dari tadi hujan melanda tempat ini, sehingga kami bisa berlama-lama disini tanpa merasa kepanasan.

otw-pasir-berbisik pasir-berbisik pasir-berbisik-bromo pasir-berbisik-bromo-2

Mendaki kawah Bromo adalah tujuan terakhir. Ga mudah juga. Dari parkiran mobil, kita harus trekking sejauh kurang lebih 1 km sampai ke tangga menuju kawah Bromo. Kalau tidak mau repot dan kecapean, bisa menunggangi kuda yang dijajakan penduduk lokal setempat. Kisaran harga dari 25 ribu. Sambil berjalan, anda diharuskan hati-hati karena banyak sekali ranjau kotoran kuda di sepanjang jalan. Entah siapa yang bertanggung jawab membersihkannya.

kawah-bromo view-dari-atas-kawah-bromo

Comments
  1. Posted by dewtraveller
    • Posted by Bobby Ertanto
  2. Posted by Bobby Ertanto
  3. Posted by Halim Santoso
    • Posted by Bobby Ertanto
  4. Posted by Mindy Jordan
    • Posted by Bobby Ertanto
  5. Posted by cumilebay.com
  6. Posted by paket wisata bromo
  7. Posted by Misbahul Munir
  8. Posted by paket wisata bromo
    • Posted by Bobby Ertanto

Add Your Comment