Tengah Malam Bingung di Bangkok

Author: | Posted in Asia, Backpacking, Bangkok, Thailand 5 Comments

Patpong Road

Waktu sudah hampir tengah malam memang ketika saya dan teman-teman keluar dari hotel untuk cari pasar malam apa yang masih buka saat itu. Apa daya, waktu jalan-jalan di Bangkok sangat sedikit, karena hampir semua waktu ‘produktif’ buat jalan-jalan digunakan untuk latihan Requiem Mother of the Songs yang akan diadakan beberapa hari ke depan. Habis latihan perdana di University of Chulalongkorn, beres-beres dan ga pake babibu lagi, semua langsung jalan.

Rencana awalnya kami mau ke Suan Lum Night Bazaar yang terkenal dengan wisata pasar malam yang murah. Perkiraan saya, karena tutup tengah malam, jadi masih ada waktu sebentar disana. Sebelumnya memang sudah browsing dulu lokasi dan cara kesana (Meski akhirnya tau, informasi yang saya cari di search engine ternyata tidak valid lagi). Untuk menyingkat waktu, dari lokasi hotel di daerah Silom Road, kami naik BTS Sky Train Chong Nonsi menuju BTS Sala Daeng. Nah dari sini jalan menyeberang ke arah kanan (ternyata masih lumayan jauh). Sebenarnya, di BTS Sala Daeng ini kita sudah berada di pinggiran Patpong Market. Memang Patpong Road terkenal juga dengan kehidupan malamnya (disini banyak kita temui Gay). Tapi karena tujuan kita ke Suan Lum Market, jadi Patpong disingkirkan dulu sementara.

Tanya sana, tanya sini, kemudian ada bapak-bapak paruh baya dengan bahasa inggris terbata-bata berusaha memberitahu kami ‘Closed…closed…!’ kata si bapak sambil tangannya disilangkan membentuk tanda X. Saya pikir dia bilang ‘Kalian telat, jam segini sudah tutup’. Kami tetap melanjutkan berjalan kaki kearah Lumpini park. Kami galau lagi disini. Lalu kita bertanya lagi pada tunawisma yang kebetulan ada di taman itu. Untungnya dia kooperatif dan justru berbaik hati berusaha menjelaskan Suan Lum itu SUDAH TUTUP saudara-saudara.

Besoknya baru saya tahu ternyata Suan Lum Night Bazaar itu sudah ditutup di awal tahun 2011 lalu dan akan dibangun proyek property gedung perkantoran dan area bisnis. Lokasinya yang baru sengaja dipindahkan ke daerah Ratchadaphisek Road. Direncanakan akan dibangun kompleks pasar malam yang lebih besar lagi. Namanya pun ganti menjadi Ratchada Night Bazaar. Ternyata saya kurang teliti mengambil informasi dari internet. Huff!! Maaf teman-teman.

Jadinya, jalan-jalannya kemana doong?!!

Malam itu akhirnya dilanjutkan ke Patpong Market saja, berada tidak jauh dari situ. Tanya sana-tanya sini lagi. Akhirnya ketemu Patpong Market yang sudah hampir tutup. Kaki mulai pegal, perut juga sudah mulai memberontak. Kami pun sepakat untuk cari makan, baru kemudian balik ke hotel.

Kedua ruas jalan Patpong sudah kita susurin dan ternyata ga ada yang cocok. Bau pork disini menyengat sekali, rasanya mau muntah. Selera makan bisa langsung drop. Sampai akhirnya saya dan teman saya Very nego ke tukang tuktuk supaya membawa kita ke tempat makan seafood yang masih buka jam segini (dini hari). Setelah nego-nego akhirnya kita sepakat harga 50Baht untuk 1 tuktuk, buat nganterin kita ke tempat makan, nungguin, trus nganter balik ke hotel. Kita ambil 2 tuktuk, karena kita bertiga belas :p. (Pokoknya dimuatin saja hahaha)

Petualangan malam itu ternyata baru dimulai. Perjalanan ke lokasi terbilang cukup jauh. Saya lupa persis daerahnya. Sisupir membawa tuktuk dengan kecepatan tinggi. Wuusss… Susul-susulan antar tuktuk pun terjadi. Karena ini memang pengalaman pertama kita naik tuktuk, dan memang kendaraan yang menjadi khas Thailand ini sungguh menarik. Setelah tiba dilokasi seafood, ternyata lokasinya agak masuk ke dalam komplek ruko. Kita turun dan langsung masuk, sementara tuktuknya kita bilang untuk menunggu sesuai perjanjian di awal. Tapi ternyata harga makanan disini termasuk yang mahal. Total biaya makanan disini berkisar 4,200Baht (sekitar 1,2juta) dan makanannya ga worth it sama sekali.

Jam hampir menunjukkan jam 3 dini hari, selesai makan kita langsung pulang. Ternyata tuktuknya sudah menghilang. Saya baru sadar kita kena perangkap. Pasti mereka sudah saling kerjasama. Akhirnya ongkos kita kembali ke hotel lebih mahal dari seharusnya. Huff!! Satu pelajaran yang berharga bagi saya.

Comments
  1. Posted by Cumi MzToro
  2. Posted by bpras
  3. Posted by Ceritaeka
  4. Posted by db-tip

Add Your Comment